Seberapa sering kita terjebak oleh dosa? Saya pun masih sering terjebak dalam keadaan yang salah. Namun apakah yang akan kita lakukan ketika kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan itu salah? Apakah kita akan berubah atau berkompromi dengan dosa? Saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman pribadi saya.
Kejadian ini sudah 1,5 tahun yang lalu. Saya pernah disakiti oleh seseorang. Dan orang yang menyakiti saya adalah orang yang sangat dekat dengan saya. Ketika saya disakiti, saya merasa dia itu tidak pantas untuk dimaafkan. Terlebih lagi kalau saya mengingat perlakuan nya terhadap saya, saya semakin membencinya. Saya tidak mau munafik, butuh waktu untuk memaafkan nya, tapi saya teringat kata ibu saya " Sampai kapan kamu mau menyimpan kebencian? " mendengar kata ibu, saya langsung merasakan perasaan bersalah.
Mungkin selama ini saya berkompromi dengan dosa. Saat itu mungkin saya berfikir " Tuhan mengerti kok apa yang saya rasakan, saya kan juga manusia punya batas kesabaran, kalau dimaafin ke enakan dia dong " begitu banyak alasan yang bisa membuat saya untuk tetap membencinya.
Tetapi, saya belajar untuk memaafkan. Meskipun menurut teman - teman saya, saya adalah orang bodoh yang mau memaafkan ketika saya disakiti tapi saya mau belajar memaafkan.
Singkat cerita, 2 minggu setelah kejadian tersebut saya mulai mendoakan orang yang menyakiti saya. Ketika saya berdoa, saya mulai menyebut namanya. Awalnya saya sangat susah untuk menyebut namanya, tapi saya terus berusaha untuk menyebutnya, sampai akhirnya ketika saya mulai menyebut nama orang itu, saya merasa beban yang ada dalam diri saya, semuanya terangkat.
Berkali - kali saya ucapkan nama orang itu dan saya melepaskan pengampunan untuknya. Ternyata ada damai sejahtera yang saya rasakan ketika saya memaafkan orang itu. Saya tidak mau terus - terusan berkompromi dengan dosa karena seperti ada tertulis bahwa Iblis datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan.
Pertama, ia mencuri perhatian saya. Fokus saya tidak lagi kepada Tuhan, tetapi kepada kebencian yang saya rasakan. Kedua dia membunuh iman saya. Dia akan membuat saya benci bahkan mungkin mengalami kepahitan, Ketiga membinasakan, setelah dia menarik seseorang jauh dari Tuhan, dia juga mau kita terus menerus terjerat dalam dosa dan membuat kita tidak bisa lepas dari dosa tersebut. Ingat, bahwa upah dosa adalah maut.
Saat itu saya sadar, bahwa Tuhan sudah memampukan saya untuk memaafkan orang tersebut. Kalau bukan karena Tuhan, mungkin sampai sekarang saya masih belum bisa memaafkan nya. Setelah secara totalitas saya memaafkan, saya mendapat begitu banyak berkat dari Tuhan. Coba kalau saya masih belum bisa memaafkan mungkin berkat itu akan diberikan kepada orang lain.
Memaafkan itu tidak hanya dimulut saja, tetapi juga kita tidak mengingat- ingat lagi kesalahan orang tersebut. Kalau pun ingat, kita sudah tidak benci ataupun marah terhadap orang tersebut. Dan saya bersyukur, bahwa hubungan saya dan orang itu sudah membaik. Kami sudah berkomunikasi, walaupun tidak selalu, tetapi saya masih menjaga hubungan baik.
Disini saya mau membagikan, bahwa dosa dapat membuat penghalang berkat. Jadi, jangan pernah berkompromi lagi dengan dosa. Tuhan memiliki Unlimited Blessings untuk kita, tapi terkadang kita yang membatasi berkat Tuhan itu. Mari, kita sama - sama belajar untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih dewasa dan menjadi orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar