Senin, 09 Desember 2013

Jangan kompromi dengan dosa

Seberapa sering kita terjebak oleh dosa? Saya pun masih sering terjebak dalam keadaan yang salah. Namun apakah yang akan kita lakukan ketika kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan itu salah? Apakah kita akan berubah atau berkompromi dengan dosa? Saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman pribadi saya.

Kejadian ini sudah 1,5 tahun yang lalu. Saya pernah disakiti oleh seseorang. Dan orang yang menyakiti saya adalah orang yang sangat dekat dengan saya. Ketika saya disakiti, saya merasa dia itu tidak pantas untuk dimaafkan. Terlebih lagi kalau saya mengingat perlakuan nya terhadap saya, saya semakin membencinya. Saya tidak mau munafik, butuh waktu untuk memaafkan nya, tapi saya teringat kata ibu saya " Sampai kapan kamu mau menyimpan kebencian? " mendengar kata ibu, saya langsung merasakan perasaan bersalah.

Mungkin selama ini saya berkompromi dengan dosa. Saat itu mungkin saya berfikir " Tuhan mengerti kok apa yang saya rasakan, saya kan juga manusia punya batas kesabaran, kalau dimaafin ke enakan dia dong " begitu banyak alasan yang bisa membuat saya untuk tetap membencinya.
Tetapi, saya belajar untuk memaafkan. Meskipun menurut teman - teman saya, saya adalah orang bodoh yang mau memaafkan ketika saya disakiti tapi saya mau belajar memaafkan.

Singkat cerita, 2 minggu setelah kejadian tersebut saya mulai mendoakan orang yang menyakiti saya. Ketika saya berdoa, saya mulai menyebut namanya. Awalnya saya sangat susah untuk menyebut namanya, tapi saya terus berusaha untuk menyebutnya, sampai akhirnya ketika saya mulai menyebut nama orang itu, saya merasa beban yang ada dalam diri saya, semuanya terangkat.

Ibu

Pagi ini, saya merasakan betapa sulitnya ketika ibu saya sedang tidak ada dirumah dikarenakan ibu saya sedang pergi ke Bandung. Biasanya setiap senin pagi ibu saya selalu mempersiapkan sarapan dan membawakan saya dan adik saya bekal untuk makan siang. Setiap senin pagi rutinitas saya begitu bangun tidur, langsung masuk ke kamar mandi dan mempersiapkan baju apa yang akan saya bawa ke mess. Namun, ketika ibu saya sedang tidak ada dirumah, saya harus bangun lebih pagi.

Saya bangun jam setengah 6 pagi, lebih pagi dari biasanya. Begitu saya bangun, saya langsung ke dapur. Saya masak ( lebih tepatnya hanya menggoreng saja, hehe ) untuk adik saya, karena dia harus bawa bekal. Ketika saya mulai menggoreng, tiba - tiba gas nya habis. Saya langsung bingung dimana tempat beli gas? karena selama ini saya tidak pernah beli gas. Saya tanya ayah saya dia juga bilang tidak tahu.
Padahal saya pernah melihat ibu saya beli gas dipagi hari.

Kejadian ini langsung membuat saya teringat akan sosok seorang ibu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Saya sangat merasakan bagaimana susah nya menjadi seorang ibu. Ketika pagi hari harus sudah bangun mempersiapkan sarapan untuk anak - anak. Belum lagi masak untuk bawa bekal. Siang hari mencuci baju, gosok, cuci piring. Saya pun pernah melakukan rutinitas itu selama liburan, dan rasanya sungguh melelahkan.